Konsentrasi – pengertian konsentrasi yang
paling sederhana adalah menghimpun semua pikiran yang tercerai berai,
diarahkan ke satu hal saja, yakni memikirkan satu masalah saja , dan tidak
memikirkan berbagai masalah dalam satu waktu.
Pengertian Konsentrasi ini sama dengan arti khusyu’
dalam shalat, yaitu menghimpun hati untuk memikirkan shalat saja, dan
berupaya mengembalikan pikiran yang mengembara ke mana-mana memikirkan banyak hal, diarahkan kepada
shalat.
Para ulama terdahulu telah memberi
contoh yang sangat mengagumkan dalam memusatkan pikiran. Syekh M. Ismail
al-Muqaddam misalnya, dalam kitabnya, Uluwwul Himmah, telah
mencerminkan beberapa kisah mengenai ini, antara lain dia katakan:
“Inilah dia al-Khalil bin Ahmad,
suatu ketika keluar rumah. Tidak terasa olehnya, tiba-tiba dia sudah berada di
tengah gurun pasir.
Ada seseorang berkunjung
kepada seorang penyair bernama Abu Tamam. Saat itu dia sedang menggubah syair.
Dia tidak merasakan kedatangan orang itu.
Ibnu Sahnun mempunyai seorang budak.
Suatu hari ia meminta pembantunya itu menyiapkan makanan untuknya. Saat itu dia
sedang sibuk menulis karangannya berisi bantahan terhadap orang-orang yang
tidak sependapat dengannya. Makanan pun dihidangkan. Setelah lama menunggu,
akhirnya wanita itu menyuapinya, sampai makanan itu habis, sedang Ibnu Syahnun
tidak merasakan. Dia terus menulis sampai terbit fajar. Kemudian, dia
menanyakan kepada wanita itu tentang makanan yang dia minta. Maka, wanita itu
memberitahu bahwa dia telah menghabiskannya tanpa terasa.
Ada seorang ulama salaf ditanya,
‘Apakah hati Anda berbicara tentang suatu perkara dunia dalam shalat?’ Maka dia
jawab, ‘Tidak, baik dalam shalat maupun di luar shalat’.
Maimun bin Mahran berkata, ‘Saya
sama sekali tak pernah melihat Muslim bin Yasar menoleh ketika shalat. Bahkan,
sungguh, salah satu sisi masjid ini pernah roboh. Orang-orang di pasar waktu
itu terkejut mendengar dentuman robohnya bangunan, sementara Muslim masih ada
di dalam masjid. Dia tetap meneruskan shalatnya tanpa menoleh’.
Telah diriwayatkan juga, bahwa
Abdullah bin az-Zubair Ra. pernah shalat di dalam Ka’bah. Ketika itu dia
dikepung oleh pasukan Abdul Malik bin Marwan. Mereka melemparkan ke arahnya
batu-batu dengan manjanik (alat pelempar batu). Ada pecahan batu besar melintas
di antara janggut dan leher Ibnu Zubair, tetapi dia tidak bergeser dari
tempatnya. Tidak tampak pada raut mukanya tanda-tanda dia terkejut atau peduli.
Begitu pula, Syekh al-Allamah
al-Muhaddits M. Nashirudin al-Albani sering kali tinggal di perpustakaan dalam
waktu yang lama, untuk menela’ah buku-buku dan melakukan penelitian,
sampai-sampai dia diberi satu ruangan khusus di Perpustakaan azh-Zhahiriyyah,
agar ia bisa melakukan penelitian dan menela’ah buku-buku dengan leluasa.
Bahkan, ada cerita, bahwa dia pernah naik tangga untuk mengambil sebuah buku
dari rak. Setelah didapat, dia duduk selama satu jam atau lebih. Dia membaca
buku itu, sedang dia masih berada di atas tangga. Itu lantaran begitu senang
dan gemarnya ia membaca.
Selanjutnya, marilah kita lihat
sebuah contoh dari seorang ilmuwan penemu danBarat terkemuka, Thomas Alfa
Edison. Suatu ketika dia ingin memecahkan soal matematika yang rumit, yang
selama ini telah menyibukkan pikirannya. Tapi, waktu itu dia ada di jalan.
Maka, dia keluarkan dari sakunya . sepotong kapur. Dia melihat di depannya ada
sebuah gerobak angkutan umum berhenti. Sisi belakang gerobak itu berwarna hitam
seperti papan tulis. Maka, mulailah dia menulis di sana. Hingga, ketika gerobak
itu berjalan, orang-orang melihat ada seseorang berlari-lari di belakang
gerobak, sambil memegang kapur dan terus menulis.
Dikutip dari “Obat Lupa”, Mahmud
Asy-Syarqawi.
